Setia di Balik Kemudi : Kisah Perjalanan Firdaus, Dari Sopir Taksi Kuning Menjadi Driver APACE

Banyak dari kita tentu masih mengingat Taksi Kuning, angkutan umum khas Kota Banjarmasin yang dulu hilir-mudik membawa penumpang dari simpang jalan ke simpang lainnya, menjangkau berbagai sudut kota hingga pelosok. Namun, seiring waktu, eksistensi Taksi Kuning mulai berkurang, sejalan dengan perubahan sistem transportasi di kota ini.

Pada tahun 2007, di salah satu sudut Terminal Antasari, seorang sopir Taksi Kuning bernama Akhmad Firdaus, atau yang akrab disapa Firdaus, tengah berbincang dengan rekan-rekannya sembari menunggu penumpang. Dengan wajah teduh, ia selalu menyapa dan mempersilakan penumpang yang ingin menaiki Taksi Kuningnya, yang saat itu bertarif sekitar dua ribu rupiah sekali jalan.

Firdaus telah menggeluti profesi sebagai sopir Taksi Kuning selama lebih dari satu dekade, sejak tahun 2007 hingga 2018. Namun, pada bulan Oktober 2018, ia memutuskan untuk bergabung dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Banjarmasin sebagai driver APACE (Angkutan Pelajar Ceria). Uniknya, ia tetap menggunakan mobil Taksi Kuning miliknya, yang kini tampil dengan corak penuh warna dan gambar pelajar di bodinya, meski bagian dalamnya tetap mempertahankan kursi yang sama seperti dulu.

Setiap hari, Firdaus sudah bersiap sejak pukul 06.00 WIB untuk mengantar pelajar di jalur trayek yang telah ditentukan. Pelanggan setianya kini adalah para pelajar SD, SMP, hingga SMK. Berkat dedikasinya, ia dipercaya menjadi Ketua Koperasi dalam komunitas sopir APACE, yang telah memiliki struktur organisasi yang solid untuk mengatur tugas dan operasional angkutan pelajar ini.

Menurut Firdaus, menjadi sopir APACE jauh lebih mudah dibandingkan saat masih mengemudikan Taksi Kuning. Jika dulu ia harus mengejar target, berkeliling mencari penumpang, bahkan menunggu hingga berpuluh menit di terminal, kini jadwalnya lebih terstruktur dengan kepastian jumlah penumpang. “Semua sopir APACE wajib berkumpul di titik lokasi 30 menit sebelum jam pulang sekolah. Begitu bel pulang berbunyi, para pelajar langsung masuk ke dalam APACE masing-masing, lalu kami mengantar mereka pulang ke rumahnya,” ungkap ayah empat anak ini.

Sebelum bergabung dengan APACE, setiap mobil Taksi Kuning yang ingin beralih fungsi harus memenuhi persyaratan sebagai badan usaha. Pada tahun 2018, program APACE memulai operasionalnya dengan 13 unit kendaraan. Tiga bulan kemudian, pada Januari tahun 2019, jumlahnya bertambah menjadi 15 unit, yang terdiri dari 13 unit APACE reguler dan 2 unit APDI (Angkutan Pelajar Disabilitas) dan kini total seluruhnya 15 unit APACE dan 5 unit APDI.

Firdaus juga memiliki kisah unik selama menjalankan tugasnya. Saat pertama kali bertugas di daerah Jalan Mantuil, ia mendapati seorang anak kecil yang biasanya pergi ke sekolah dengan sepeda, tiba-tiba melepas sepedanya begitu melihat APACE. Anak tersebut langsung bergegas naik ke angkutan pelajar gratis ini, seolah menemukan kenyamanan dan kemudahan yang baru.

Selain perubahan dalam sistem transportasi, bergabung dengan APACE juga membawa perubahan dalam keseharian para sopir. “Dulu kami hanya mengenakan pakaian seadanya dan sandal saat bekerja. Sekarang, dengan seragam Dishub yang rapi serta sepatu, awalnya kami merasa canggung. Namun, lama-kelamaan, kami merasa bangga dan lebih percaya diri,” ujar Firdaus sambil tersenyum.

Kini, Firdaus merasa bersyukur dengan keberadaan APACE. Selain mendapat kepastian pendapatan, ia tidak perlu lagi merogoh kocek sendiri untuk membeli BBM. “Dengan adanya APACE, kesejahteraan keluarga saya meningkat. Pendapatan lebih besar, ada kepastian tiap bulan, dan saya bisa menabung untuk kebutuhan rumah tangga,” pungkasnya dengan penuh rasa syukur. (fdl)

error: Dishub Kota Banjarmasin